Jumat, 13 Februari 2015

"TETANGGA DAN CERMIN KEIMANAN SESEORANG"



MEMULIAKAN TETANGGA

Memuliakan tetangga adalah wajib dalam Islam yang dapat mengantarkan seorang muslim masuk ke dalam Surga ataupun Neraka. Siapakah yang dimaksud dengan tetangga ? Menurut Imam as-Suhaymi, kriteria tetangga ialah orang yang jarak antara rumah Anda dengan rumahnya kurang dari 40 rumah dari berbagai arah.

SUKA DUKA BERTETANGGA

Mempunyai tetangga yang baik adalah bagian dari kebahagiaan hidup seseorang. Rasulullah saw bersabda “Diantara kebahagiaan seorang muslim adalah memiliki rumah yang luas dan tetangga yang baik dan kendaraan yang nyaman”. (HR Al Bukhari).

Bisa dibayangkan jika tetangga kita adalah orang yang selalu iri dan gemar mengganggu tanpa alasan. la selalu berusaha menyaingi tetangga, dan malah bahagia bila tetangga mendapatkan kesulitan. Terhadap tetangga semacam ini, Rasulullah telah bersabda : “Tidak akan masuk surga, siapa saja yang tetangganya tidak aman dan gangguannya.”(HR Bukhari).

PERINTAH ISLAM UNTUK MEMULIAKAN TETANGGA

Ibnu Khaldun, ahli sosiologi dan ilmu sejarah Islam, dalam bukunya Muqadimmah, mengatakan, manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan satu sama lain dan tidak bisa hidup sendiri. Tidak pelak, tetangga yang merupakan orang terdekat dengan rumah kita harus mendapatkan prioritas. Mereka, adalah orang yang tidak bisa diabaikan dalam kehidupan bermasyarakat.

Islam mensyariatkan, memuliakan tetangga adalah wujud keimanan dan bagian dari akhlak mulia. “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesunguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakandiri”(An-Nisaa’: 36)

Rasulullah bersabda : “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir maka hendaklah ia memuliakan tetangganya, “.(HR Muslim)

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW mengungkapkan bahwa Jibril selalu memerintahkannya untuk berbuat baik kepada tetangga, sampai-sampai beliau mengira tetangga termasuk salah satu ahli waris. ‘Malaikat Jibril senantlasa berpesan kepadaku untuk selalu berbuat baik kepada tetangga, hingga aku menyangka tetangga itu akan Ikut mewarisinya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Ada kisah tentang seorang wanita ahli ibadah, tapi divonis oleh Rasul sebagai ahli neraka. Mengapa? Karena ia selalu menyakiti tetangganya. “Wahai Rasulullah, ada seorang wanita bangun di waktu malam (shalattahajud) dan berpuasa di slang hari. Dia juga berbuat baik dan bershadaqah. Akan tetapi dia suka mengganggu tetangga dengan lidahnya.” Rasulullah menjawab, “Tidak ada kebaikan baginya, dia adalah penduduk neraka.” Lalu, mereka bertanya, Ada seorang wanita lain yang melakukan shalat fardhu, bershadaqah dengan gandum, dan tidak pernah mengganggu tetangganya.” Rasulullah bersabda, “Dia adalah bagian dari penduduk surga” (HR Al Bukhari)

Hadist diatas memberikan gambaran kepada kita bahwa ibadah tidak melulu langsung kepada Allah (hablum minallah), tapi juga bersentuhan dengan unsur sesama (hablum minannas). Karena itu, Rasul SAW memerintahkan Abu Dzar dan istrinya agar memperbanyak kuah saat memasak. “Jika engkau memasak sayur maka perbanyaklah kuahnya, lalu perhatikan tetanggamu, dan berikanlah kepadanya dengan cara yang baik”. (HR Muslim).

Rasul SAW pun menyatakan tidak beriman seseorang yang tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangganya meringis kelaparan. “Saya pernah mendengar Ibnu Abbas meriwayatkan dari Ibnu Zubair dimana dia menuturkan, Saya pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Bukan termasuk orang yang beriman, siapa saja yang kenyang sedangkan tetangganya dalam keadaan lapar’ (HR AI-Bukhari).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar