Sabtu, 21 Februari 2015

PERAN TASAWUF DALAM KEHIDUPAN MODERN

PERAN TASAWUF DALAM KEHIDUPAN MODERN
Masyarakat modern merupakan suatu himpunan orang yang hidup bersama disuatu tempat dengan ikatan dan aturan-aturan tertentu yang bersifat mutakhir. Deliar Noer menyebutkan ciri-ciri modern sebagai berikut: 1) Bersifat rasional, yakni lebih mengutamakan pendapat akal dari pada pendapat emosi. 2) Berfikir untuk masa depan yang lebih jauh, tidak hanya memikirkan masalah yang bersifat sesaat tetapi selalu dilihat dampak sosialnya secara lebih jauh. 3) Menghargai waktu, bahwasannya waktu adalah sesuatu yang sangat berharga. 4) Bersikap terbuka, yakni mau menerima kritik, saran, masukan, gagasan serta masukan perbaikan. 5) Berfikir obyektif, yakni melihat segala sesuatu dari sudut fungsi dan kegunaannyabagi masyarakat.
  1. Problematika Masyarakat Modern
Revolusi teknologi dapat meningkatkan control manusia pada materi, ruang dan waktu, menimbulkan evolusi ekonomi, gaya hidup, pola pikir, dan system rujukan. Dan kehadiran ilmu pengetahuan dan teknologi telah melahirkan problematika masyarakat modern sebagai berikut:
1.      Desintegrasi ilmu pengetahuan; Kehidupan modern antara lain ditandai oleh adanya spesialisasi dibidang ilmu pengetahuan. Masing-masing ilmu pengetahuan memiliki paradigma (cara pandang) nya sendiri dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Jika seseorang mengalami masalah kemudian pergi kepada kaum teolog, ilmuwan, politisi, ekonom psikolog dan lain-lain, ia akan memberikan jawaban yang berbeda-beda sehingga dapat membingungkan manusia.
2.      Kepribadian yang terpecah; Karena kehidupan manusia modern dipolakan oleh ilmu pengetahuan yang coraknya kering dari nilai-nilai spiritual dan berkotak-kotak itu, maka manusia menjadi pribadi yang terpecah. Kehidupan manusia modern diatur oleh rumus ilmu yang eksak dan kering. Akibatnya hal ini dapat menghilangkan nilai rohaniah, jika keilmuan yang berkembang itu tidak berada dibawah kendali agama maka proses kehancuran manusia akan terus berjalan.
3.      Penyalahgunaan Iptek; Sebagai akibat dari lepasnya ilmu pengetahuan dan tekologi dari ikatan spiritual, maka iptek telah disalahgunakan dengan segala implikasi negatifnya. Kemampuan membuat senjata telah diarahkan untuk penjajahan satu bangsa. Kemampuan dibidang rekayasa genetika diarahkan untuk jual beli manusia. Sehingga semua itu dapat terlihat akan rusaknya moral umat dan lain sebagainya.
4.      Pendangkalan Iman; Sebagai akibat dari pola fikir keilmuan diatas, khususnya ilmu-ilmu yang hanya mengakui fakta-fakta yang bersifat empiris menyebabkan manusia dangkal imannya. Ia tidak tersentuh oleh informasi yang diberikan oleh wahyu, bahkan informasi yang diberikan oleh wahyu kadang hanya menjadi bahan tertawaan karena tidak ilmiah.
5.      Pola hubungan materialistic; Semangat persaudaraan dan saling tolong menolong yang didasarkan akan panggilan iman sudah tidak nampak lagi. Pola hubungan satu sama lain hanya dilihat dari sejauh mana seseorang memberikan manfaat secara material terhadap lainnya. Akibatnya ia menempatkan pertimbangan material diatas pertimbangan akal sehat, nurani, hati, kemanusiaan dan keimanannya.
6.      Menghalalkan segala cara; Sebagai akibat lebih jauh dari dangkalnya iman dan pola hidup materialistic sebagaimana yang disebutkan diatas, maka manusia mudah menggunakan prinsip menghalalkan berbagai cara dalam mencapai tujuannya. Jika ini terus berlanjut akan terjadi kerusakan akhlak dalam berbagai bidang kehidupan.
7.      Stres dan Frustasi sehingga dapat kehilangan harga diri dan masa depannya; Kehidupan modern yang kompetitif seperti ini mengakibatkan manusia terus bekerja dan bergerak tanpa mengenal batas dan kepuasaan. Hal ini mengakibatkan tidak pernah ada rasa syukur yang muncul dari hati manusia. Ketika mengalami kegagalan tekadang mereka stress dan frustasi sehingga mereka tidak dapat berfikir dengan jernih akibat dari jauhnya kehidupan mereka dari nilai-nilai spiritual. Maka dari itu pengambialn keputusan yang salah pada kondisi ini sering terjadi. Tak sedikit orang terjerumus kedalam hal yang negative dimana dapat menghilangkan harga diri mereka dan masa depan kelak.
  1. Bukti Minat Masyarakat modern Terhadap Tasawuf
Persoalan besar yang muncul ditengah-tengah umat manusia sekarang ini adalah krisis spiritualitas. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dominasi rasionalisme, empirisme, dan positivisme ternyata membawa manusia kepada kehidupan modern dimana menjadikan sekuralisme menjadi mentalitas jaman. Sekalipun krisis spiritual menjadi ciri peradaban modern dan modernitas itu telah memasuki dunia islam, masyarakat islam tetap menyimpan potensi untuk menghindari krisis tersebut. Sebabnya ialah sebagian dunia islam belum berada pada tahap perkembangan kemajuan Negara-negara barat. Kesempatan ini menguntungkan karena memliki waktu untuk belajar dari pengalaman mereka dan membangun strategi pembangunan yang mengambil aspek-aspek positif kebudayaan barat dan menghilangkan aspek-aspek negatifnya. Hal ini dapat dilakukan ketika mampu mempertahankan dasar-dasar spiritualisme islam agar tetap terjaga.
Dalam kehidupan islam terdapat khazanah spiritualisme yang berharga yakni sufisme. Selama dua abad sejak kehadiran islam, tasawuf merupakan fenomena individual yang spontan.  Sebenarnya praktik seperti halaqah, diskusi keagamaan bisa dilakukan dimana saja, termasuk masjid . Hal ini berlangsung sampai dengan abad ke 5/ ke 11. Sejak abad ke 6H/12M, praktik yang simple ini berubah menjadi konsep spiritual yang terorganisasi dalam bentuk tarekat. Organisasi ini memiliki hirarki kepemimpinan, baiat, formula dzikir dan silsilah yang diyakini sampai kepada sahabat nabi Muhammad SAW. Jadi tasawuf yang dulu hanya menjadi amalan individual kini menjadi terstruktur dan kemudian berkembang secara masal.
Ada empat sebab yang menjadikan tarekat begitu menarik masyarakat islam sejak abad ke 6M/12H. Pertama, ialah factor al-Ghazali. Dalam suasana pertentangan klaim jalan untuk mencapai kebenaran, ia telah mempelajari dengan cermat berbagai aliran utama islam. Dan pada akhirnya setelah mengalami krisis intelektual ia menemukan tasawuf sebagai jalan yang paling valid untuk melihat kebenaran. Begitu kuatnya pengaruh pikiran al-ghazali yang bukan saja menata teologi islam dan membersihkan tasawuf dari elemen-elemen yang tidak islami, al-Ghazali berhasil menjadikan tasawuf sebagai bagian integral dari ajaran islam. Melalui al-Ghazali tasawuf menerima ijma’ umat islam.
Kedua, ialah jatuhnya imperium islam dan dengan demikian muncul perasaan tidak aman dikalangan masyarakat islam. Pada tahun 1258 Baghdad dihancurkan oleh bangsa mongol yang kemudian menguasai wilayah-wilayah Persia dan Asia tengah. Wilayah-wilayah itu mengalami kehancuran baik oleh mongol maupun penguasa-penguasa berikutnya. Dalam keadaan seperti itu, masyarakat mencari perlindungan yang akhirnya menemukan tarekat sebagai institusi yang mengisi kevakuman pemerintah yang stabil dan menjamin tatanan social.
Ketiga, ialah keyakinan bahwa tasawuf mampu mengantarkan manusia berkomunikasi langsung dengan Tuhan dan jaminan itu diberikan oleh tarekat. Ajaran tarekat tentang berkah, syafaat, karamah, dan ziarah kubur berfungsi mempertautkan batin manusia dengan Tuhan melalui tarekat. Keempat, ialah bahwa tasawuf yang diajarkan oleh tarekat bersikap sangat toleran terhadap keyakinan dan praktek keagamaan local. Sikap ini sangat menarik mereka yang baru saja masuk islam atau dikalangan islam yang masih awam.
  1. Relefansi Tasawuf Dalam Kehidupan Modern
Banyak cara yang dianjurkan para ahli untuk mengatasi masalah, salah satu cara yang dianjurkan para ahli adalah dengan cara mengembangkan kehidupan yang berakhlak dan bertasawuf. Salah satu tokoh yang begitu memperjuangkan akhlak tasawuf bagi mengatasi masalah modern adalah Husein Nasrh, menurutnya paham sufisme ini mulai mendapat tempat dikalangan masyaraka, karena mereka mulai merasakan kekeringan batin dimana sufisme yang dapat menjawab persoalan mereka.
Mengapa sufisme perlu dimasyarakatkan pada mereka? Jawabannya terdapat 3 tujuan. Pertama, turut serta terlibat dalam berbagai peran dalam menyelamatkan kemanusiaan dari kondisi kebingungan akibat dari hilangnya nilai-nilai spiritual. Kedua, memperkenalkan literatur atau pemahaman tentang aspek esoteric (batin) islam, baik terhadap masyarakat islam yang mulai melupakannya maupun non islam, khususnya terhadap masyarakat barat. Ketiga, untuk memberikan penegasan kembali bahwasannya sesungguhnya aspek esoteric islam, yakni sufisme, adalah jantung dari ajaran islam, sehingga bila wilayah ini kering dan tidak berdenyut, maka keringlah aspek-aspek lain ajaran islam. Dalam hal ini Nasrh menegaskan “tarikat” atau “jalan rohani” yang biasanya dikenal sebagai tasawuf atau sufisme adalah merupakan dimensi kedalaman dan kerahasiaan dalam islam, sebagaimana syariat berakar pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ia menjadi jiwa dan risalah islam, seperti hati yang ada pada tubuh, tersembunyi jauh dari pandangan luar.
Intisari ajaran tasawuf bertujuan memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga seseorang merasa dengan kesadarannya itu berada di hadirat-Nya. Upaya ini dilakukan antara lain dengan melepaskan diri dari jeratan dunia yang senantiasa berubah dan bersifat sementara. Orang yang telah sampai pada tujuan tersebut akan selamat dari jeratan duniawi. Ketika telah sampai pada tahap ma’rifat yakni tahap tempat antara hamba dengan Tuhan-Nya tidak ada tabir yang menutup, sementara hati sang hamba telah dipenuhi dengan cinta bukan rasa takut kepada Tuhan.
Kemampuan berhubungan dengan Tuhan ini dapat mengintegrasikan seluruh ilmu pengetahuan yang nampak berserakan itu. Karena melalui tasawuf ini seseorang disadarkan bahwa sumber segala yang ada ini berasal dari Tuhan, bahwa dalam paham wahdatul wujud, alam dan manusia yang menjadi objek ilmu pengetahuan ini sebenarnya adalah baying-bayang atau fotocopy Tuhan. Dengan demikian antara satu ilmu dengan yang lain akan mengarah pada Tuhan.
Selanjutnya tasawuf melatih manusia agar memiliki ketajaman batin dan kehalusan budi pekerti. Sikap batin dan kehalusan budi yang tajam ini menyebabkan ia akan selalu mengutamakan pertimbangan kemanusiaan pada setiap masalah yang dihadapi. Demikian pula tarikat yang terdapat pada tasawuf akan membawa manusia memiliki jiwa istiqamah, jiwa yang selalu diisi dengan nilai-nilai ketuhanan. Keadaan demikian menyebabkan ia tetap tabah dan tidak mudah terhempas oleh cobaan dimana stress, putus asa, dan lainnya akan dapat dihindari.
Sikap frustasi bahkan hilang ingatan alias gila dapat diatasi dengan sifat ridha yang diajarkan dalam tasawuf, yaitu selalu pasrah dan menerima terhadap segala keputuasan Tuhan. Ia menyadari bahwa yang Maha Kuasa atas segala sesuatu adalah Tuhan. Sikap demikian itu diperlukan untuk mengatasi frustasi.
  Kemudian sikap materialistic yang merajalela dalam kehidupan modern ini dapat menerapakan konsep zuhud, yang pada intinya sikap yang tidak mau diperbudak dan diperangkap oleh pengaruh duniawi. Demikian pula ajaran uzlah yang terdapat dalam tasawuf, yaitu usaha untuk mengasingkan diri dari terperangkap oleh tipu daya keduniaan, dapat pula digunakan untuk membekali manusia modern agar tidak menjadi sekruft dari mesin kehidupan, yang tidak tahu lagi arahnya mau dibawa kemana. Tasawuf dengan konsep uzlahnya itu berusaha membebaskan manusia dari perangkap keduniaan yang memperbudaknya.
Terakhir problema masyarakat modern diatas adalah adanya sejumlah manusia yang kehilangan masa depannya, merasa kesunyian dan kehampaan jiwa ditengah-tengah derunya laju kehidupan. Untuk ini ajaran akhlak tasawuf yang berkenaan dengan ibadah, dzikir, taubat dan berdoa menjadi penting adanya, sehingga ia tetap mempunyai harapan, yaitu bahagia hidup diakhirat nanti. Itulah sumbangan positif yang dapat digali dan dikembangkan dari ajaran tasawuf akhlak. Untuk itu didalam mengatasi problematika kehidupan masyarakat modern saat ini, akhlak tasawuf harus dijadikan alternative terpenting. Ajaran imu tasawuf perlu disuntikan kedalam seluruh konsep kehidupan.
  1. Peranan Tasawuf Dalam Kehidupan Modern.
Pada masa yang akan datang tampaknya akan berkembang ilmu pengetahuan dan teknologi serta industrialisasi akan berlangsung terus dan sangat menentukan peradaban umat manusia. Namun demikian, masalah moral dan etika akan ikut mempengaruhi pilihan strategi dalam mengembangkan peradaban dimasa depan. Ada beberapa kemungkinan yang akan terjadi pada tingkat corak keberagaman umat islam. Kemungkinan itu akan sangat ditentukan oleh berbagai factor yang saling menarik, misalnya kekuatan internal atau factor dinamik ajaran islam dengan kekuatan eksternal. Dengan demikian, kita hanya dapat memperkirakan beberapa kemungkinan corak agama yang akan menjadi mental masyarakat dimasa mendatang.
Pertama, ialah kecenderungan bahwa islam akan semakin kuat. Disini ulama’ tetap memegang peran penting dalam rangka menjaga kemurnian agama, dan karena itu memiliki otoritas untuk berbicara atas nama islam yang sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan Sunnah.
Kedua, adalah kecenderungan bahwa islam akan berfungsi sebagai ajaran etika akibat proses modernisasi dan sekularisasi yang secara perlahan-lahan hanya memberikan peluang yang sangat kecil bagi penghayatan keagamaan.
Ketiga, ialah kecenderungan islam dihayati dan diamalkan sebagai sesuatu yang spiritual sebagai reaksi terhadap perubahan masyarakat yang sangat cepat akibat kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan industrialisasi.
Spiritualisme baik dakam bentuk tasawuf, ihsan maupun akhlak menjadi kebutuhan sepanjang hidup manusia dalam setiap tahap perkembanagan masyarakat. Untuk masyarakat yang masih terbelakang, spiritualisme harus berfungsi sebagai pendorong untuk meningkatkan etos kerja dan bukan pelarian ketidakberdayaan masyarakat untuk mengatasi tantangan hidupnya. Sedangkan bagi masyarakat mju industrial, spiritualisme berfungsi sebagai tali penghubung Tuhan.
Perlu di ingat bahwa tasawuf tidak bisa dipisahkan dari kerangka pengalaman agama, dank arena itu harus berorientasi kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Inilah yang mungkin disebutkan Hamka sebagai “Tasawuf Modern”, yakni tasawuf yang membawa kemajuan, bersemangat tauhid dan jauh dari kemusyrikan, bid’ah serta khifarat. Namun demikian, dalam kehidupan riil mungkin saja terjadi bahwa salah satu aspek ajaran islam ditekankan sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada zamannya. Bagi masyarakat terbelakang, islam digambarkan sebagai ajaran yang mendorong kemajuan. Bagi masyarakat maju-industrial, islam ditekankan sebagai ajaran spiritual dan moral.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar