Sabtu, 21 Februari 2015

TASAWUF 1

A.    Pengertian Tasawuf
Ditinjau menurut bahasa, terdapat sejumlah kata atau istilah yang dihubungkan oleh para ahli untuk menjelaskan kata tasawuf. Menurut Harun Nasution, terdapat lima istilah yang berkenan dengan tasawuf diantaranya:
1.      Shafa (suci), disebut shafa karena kesucian batin kaum sufi dan kebersihan tindakan dan keikhlasannya.
2.      Shaff (barisan), karena kaum sufi memiliki iman kuat, jiwa bersih dan senantiasa memilih barisan paling depan dalam shalat berjamaah.
3.      Theosophi (Yunani: theo= Tuhan; shopos= hikmah); yang artinya hikmah/ kearifan ketuhanan.
4.      Shuffah (serambi tempat duduk); yakni serambi masjid nabawi yang di madinah yang disediakan untuk orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal dari kaum muhajirin di masa Rasulullah. Mereka biasa dipanggil ahli shuffah karena serambi tersebut sebagai tempat tinggal.
5.      Shuf (bulu domba): hal ini disebabkan kaum sufi biasa menggunakan pakain dari bulu domba yang kasar, sebagai lambing kerendahan hati mereka serta menghindari kesombongan didalam hatinya, dan zuhud kepada dunia.
Demikianlah pendapat para para ahli berkenaan dalam mengkaji pengertian tasawuf, namun para sufi tidak sepakat dalam mengartikannya. Para sufi mengatakan bahwasannya pengertian mereka sesuai dengan pengalaman mereka lakukan masing-masing. Menurut Al-junaidi Al-Baghdadi (bapak tasawuf moderat), tasawuf berarti membersihkan hati dari sifat yang menyamai binatang, menekan sifat basyariyah (biologis), menjauhi hawa nafsu, memberikan tempat kepada sifat kerohanian, berpegang pada ilmu kebenaran, memberikan nasihat kepada umat, benar-benar menepati janji kepada Allah dan mengikuti syariat Rasul SAW.
Kemudian seorang tokoh sufi Abu Yazid Al-Bustami (w.261 H/875 M) mengemukakan bahwa tasawuf meliputi tiga aspek, yaitu kha’, ha’, dan jim. Kha’ maksudnya adalah takhali berarti mengosongkan diri dari perangai tercela; ha’ maksudnya tahali berarti mengisi diri dengan akhlak terpuji; dan jim maksudnya tajali, berarti mengalami kenyataan ke-Tuhanan.
Selain itu Ibrahim Basyuni sarjana muslim berkebangsaan Mesir mengkategorikan pengertian tasawuf pada 3 hal: Pertama, Al-bidayah, ialah pemahaman tasawuf pada tingkat permukaan yakni menekankan kecenderungan jiwa dan kerinduannya secara fitrah kepada Yang Maha Mutlak, sehingga seseorang senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kedua, Al-Mujahadah, ialah pemahaman tasawuf pada pengalaman yang didasarkan kesungguhan yakni yang lebih menonjolkan akhlak dan amal dalam pendekatan diri kepada Allah SWT. Ketiga, Al-Madzaqat, ialah pemahaman tasawuf pada pengalaman batin dan perasaan keberagaman, terutama dalam mendekati dzat yang mutlak.
Dari ketiga pemahaman kategori tasawuf diatas, Basyuni menyimpulkan bahwa tasawuf adalah kesadaran murni yang menggerakan jiwa secara benar kepada amal dan aktifitas yang sungguh-sungguh dan menjauhkan diri dari keduniaan dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT untuk mendapatkan perasaan dalam berhubungan dengan-Nya. 
  1. Karakteristik Tasawuf
Berdasarkan kajian para ahli dilihat dari karakteristik tasawuf yang paling menonjol, pertama, tasawuf diartikan sebagai pengalaman mistik. Dalam pemahaman ini tasawuf diartikan sebagai suatu kondisi pemahaman yang dapat memungkinkan tersingkapnya realitas mutlak. Pemahaman tersebut bukan berasal dari pengetahuan yang bersifat demonstrative, tetapi ilham yang menyusup kedalam lubuk hati.  
Kemudian Abu Wafa Al-Ghanimi At-Tafizani ahli filsafat islam dan taswuf serta dosen Universitas Cairo menyampaikan pendapatnya bahwa ciri umum tasawuf adalah tasawuf memiliki nilai-nilai moral yang tujuannya membersihkan jiwa yang hanya dapat diperoleh melalui latihan fisik serta psikis melalui pengekangan diri dari pengaruh materialisme duniawi.
Dengan berlatih secara terus menerus dan intensif seorang suffi akan sampai pada kondisi psikis tertentu dimana dia tidak lagi merasakan adanya diri atau keakuannya. Bahkan ia merasa kekal abadi dalam relitas mutlak. Kehendaknya pun lebur dalam kehendak yang mutlak .Sehingga tersingkaplah rahasia segala sesuatu.

Tasawuf merupakan visi langsung terhadap sesuatu, bukan melalui dalil. Orang yang mendapatkan pengetahuan ini dianggap berada dalam cahaya Allah dijalan yang benar, karena mereka memilki kemampuan melihat sesuatu langsung dari hakikatnya. Itu sebabnya tasawuf sukar untuk diungkapkan dengan kata-kata yang mudah untuk dipahami masyarakat awam. Ia merupakan puncak pengalaman perjalanan rohani menuju yang mutlak.Dalam konteks inilah yang sering dikatakan Ibnu Arabi, tasawuf hanya dikaruniakan Allah kepada para Nabi dan Wali, karena merekalah yang telah mencapai puncak tertinggi proses penyucian rohaninya dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. 

Berdasarkan obyek dan sasarannya tasawuf diklasifikasikan menjadi 3 macam yaitu:
1.  Tasawuf akhlaki yaitu tasawuf yang sangat menekankan pada nilai-nilai etis (moral)
2. Tasawuf amali yaitu tasawuf yang lebih mengutamakan kebiasaan beribadah, tujuannya agar diperoleh penghayatan spiritual dalam setiap melakukan ibadah.
3.      Tasawuf falsafi yaitu menekankan pada masalah-masalah yang metafisik.
  1. Maqamat Dalam Tasawuf
Menurut bahasa maqamat berasal dari kata makan yang berarti tempat orang berdiri atau pangkal mulia. Selanjutnya, istilah ini dipakai untuk arti jalan panjang yang berjenjang yang harus ditempuh oleh seorang sufi untuk berada dekat dengan Allah.
Maqamat dalam tasawuf menurut Abu Nasr As-Saraj dengan berurutan sebagi berikut: tobat, wara’, zuhud, fakir, sabar, tawakal, ridha.
1.    Tobat. Tobat menurut bahasa adalah kembali, sedangkan tobat yang dimaksud oleh kelompok sufi adalah memohon ampun kepada Allah swt atas segala dosa dan kesalahan dan berjanji dengan sungguh-sungguh dan tidak akan mengulangi perbuatan dosa tersebut lagi, kemudian diikuti dengan amal kebajikan.
2.      Warra’. Kata Wara’ berarti saleh, yaitu menghindari diri dari perbuatan dosa atau menjauhi hal-hal yang tidak baik dan subhat. Dalam pengertian sufi, wara’ adalah menghindari jauh-jauh segala yang didalamnya terdapat keragu-raguan antara halal dan haram.
3.   Zuhud. Dari segi bahasa diartikan sebagai tidak ingin terhadap sesuatu yang bersifat keduaniawian. Orang yang Zuhud lebih mengutamkan dan sangat merindukan kebahagiaan hidup diakhirat dari pada mengejar dunia yang fana’.
4.      Fakir.  Dari segi bahasa artinya adalah orang yang berhajat, butuh, atau orang miskin, sedangkan pandangan kaum sufi, fakir adalah tidak meminta lebih dari pada yang menjadi haknya, tidak banyak mengharap dan memohon rezeki. Kecuali haknya dalam menjalankan kewajiban-kewajiban dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.
5.      Sabar. Dikalangan para sufi, sabar terdiri dari sabar dalam menjalankan perintah-perintah Allah, sabar dalam menjauhi larangan-larangan Allah dan sabar dalam menerima segala cobaan yang ditimpakan kepadannya.
6.      Tawakal. Tawakal merupakan penyerahan diri seorang hamba kepada Allah setelah ada usaha maksimal.
7.      Ridha. Dari segi bahasa berarti rela, suka, senang. Harun Nasution mengatakan bahwasannya ridha adalah tidak berusaha, tidak menentang qadha dan qadhar Allah, menerima qadha dan qadhar Allah dengan senang, mengeluarkan perasaan benci dan dengki dari hati sehingga yang muncul hanya perasaan gembira, merasa senang menerima malapetaka serasa menerima nikmat, tidak meminta surga dari Allah SWT maupun menjauhkan dari neraka, dan tidak berusaha sebelum turunnya qada dan qadar serta tidak merasa pahit dan sakit sesudah turunya qadha’ dan qadhar.
Perjalanan spiritual yang dilakukan oleh seorang sufi dalam menentukan hakikat dan makrifat tersebut kadang memiliki kecenderungan yang berbeda-beda, sehingga munculah beberapa tokoh sufi yang menonjol dalam pengalaman rohani tertentu seperti zuhud, mahabah, fana, hulul, wahdatul wujud dan lain-lain.
1. Zuhud. Orang Zuhud lebih lebih mengutamakan dan sangat merindukan kebahagiaan hidup diakhirat dan kekal serta abadi dari pada mengejar dunia yang fana’. Diantaranya tokoh zuhud yang terkenal adalah:
a.       Sa’id bin Musayyab (91 H), murid dari Abu Hurairah.
b.      Hasan Bashri (21).
c.       Sufyan Ats-Tsaury, lahir dikuffah 97 H.
d.      Ibrahim  bin Adham (w 165 H) lahir di balkh, Persia.
2.      Mahabbah. Tokoh mahabbah paling mashur adalah Rabi’ah Al-Adawiyah (w 185 H). Ia dilahirkan di Bashrah, menurutnya zuhud harus dilandasi dengan mahabbah (rasa cinta) yang mendalam, kepatuhan kepada Allah bukanlah tujuannya, karena ia tidak mengharapkan surge dan tidak takut adzab neraka, tetapi ia mematuhinya karena rindu dan cinta kepada-Nya.
3.      Fana’ dan Baqa’ (lewat penghancuran munculah kekekalan). Dari segi bahasa fana’ artinyasirna, lebur, hilang, sedangkan baqa’ artinya kekal, abadi, dan senantiasa ada. Sehingga ketika kaum sufi mencapai maqom ini ia merasa fana’ yaitu hilangnya sifat-sifat tercela dan munculnya sifat yang terpuji.
4.      Ittihad. Ittihad merupakan pengalaman batin akan kesatuan seorang sufi. Seorang sufi akan mabuk dalam kenikmatan bersatu dengan Allah. Dalam keadaan ini tidak jarang muncul ucapan-ucapan yang sebagian orang dianggap aneh seperti kata-kata: Ana Al-Haq= (Aku adalah Al-Haq), aku adalah Yang Satu. Tokoh yang sangat popular dalam maqomat ittihad adalah Abu Yazi Al-Bustami.
5.   Hulul. Tokoh mashur hulul adalah Abu Mansyur Al-Hallaj. Menurut pandangannya tingkat fana’ yang dicapai seorang sufi bukan hanya membawa pada ittihad tetapi lebih jauh lagi yakni hulul. Hulul merupakan bertempatnya sifat ketuhanan kepada sifat kemanusiaan. Dalam hal ini, Al-hallaj dipandang sebagai sufi controversial sehingga harus berakhir ditiang gantungan.
6.      Wahdatul wujud. Teori ini berpijak pada pandangan bahwa, semua wujud hanya memiliki satu realitas, realitas tunggal itu adalah ialah Allah SWT. Adapun alam semesta yang serba ganda dan berbilang ini hanyalah wadah penampakan diri dari nama dan sifat Allah dalam wujud terbatas. Tokoh yang terkemuka adalah Ibnu arabi.
Dari beberapa maqamat dan pengalaman sufi diatas dapat kita teladani dalam hidup keseharian sesuai dengan kapasitas kemampuan kita, dengan sendiriya akan bermunculan akhlak terpuji yang bias membangun kehidupan bermasyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar