Sabtu, 21 Februari 2015

HUBUNGAN AKHLAK DENGAN TASAWUF

A.    Hubungan Akhlak dengan Ilmu Tasawuf
Para ahli ilmu tasawuf pada umumnya membagi tasawuf kepada tiga bagian, yaitu tasawuf falsafi, tasawuf akhlaqi, dan tasawuf ‘amali. Ketiga macam tasawuf ini tujuannya sama, yaitu mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara membersihkan diri dari perbuatan yang tercela dan menghiasi diri dengan perbuatan yang terpuji. Dengan demikian, dalam proses pencapaian tujuan bertasawuf, seseorang harus terlebih dahulu berakhlak mulia. Ketiga macam tasawuf ini berbeda dalam hal pendekatan yang digunakan.
Pendekatan yang digunakan tasawuf falsafi adalah pendekatan rasio atau akal pikiran. Tasawuf ini menggunakan bahan-bahan kajian atau pemikiran yang terdapat di kalangan para filosof, seperti filsafat tentang Tuhan, manusia dan hubungan manusia dengan Tuhan. Pendekatan yang digunakan dalam tasawuf akhlaqi adalah pendekatan akhlak yang terdiri dari takhalli (mengosongkan diri dari akhlak yang buruk), tahalli (menghiasinya dengan akhlak yang terpuji), dan tajalli (terbukanya dinding penghalang) yang membatasi manusia dengan Tuhan. Sedangkan pendekatan yang digunakan tasawuf ‘amali adalah pendekatan amal wirid, yang selanjutnya mengambil bentuk tarekat.
Hubungan antara ilmu akhlak dengan ilmu tasawuf dapat dilihat berdasarkan isyarat Al-Qur’an dan hadis yang menegaskan pentingnya akhlak manusia dalam menjalani kehidupan. Al-Qur’an dan hadis menekankan nilai-nilai kejujuran, kesetiakawanan, persaudaraan, rasa sosial, keadilan, tolong-menolong, murah hati, suka memberi maaf, sabar, baik sangka, berkata benar, pemurah, keramahan, bersih hati, berani, kesucian, hemat, menepati janji, disiplin, mencinntai ilmu, dan berpikiran lurus.
B.     Esensi Tasawuf
Tasawuf bertujuan untuk memperoleh suatu hubungan khusus langsung dengan Allah. Hubungan yang dimaksud adalah mempunyai makna dengan penuh kesadaran bahwa manusia sedang berada di hadirat Allah SWT. Kesadaran tersebut akan menuju kontak komunikasi dan dialog antara roh manusia dengan Allah. Hal ini dapat dilakukan menusia dengan cara mengasingkan diri. Keberadaan manusia yang dekat dengan Allah SWT akan berbentuk ittihad (bersatu) dengan Tuhan.
C.    Mahabbah kepada Allah
Kata mahabbah berasal dari kata ahabba, yuhibbu, mahabbatan yang berarti mencintai secara mendalam atau kecintaan yang mendalam. Dalam Mu’jam al-Falsafi, Jamil Saliba mengatakan bahwa mahabbah adalah lawan dari al-bagd, yakni cinta lawan dari benci. Al-Mahabbah juga berarti al-wadud, yakni sangat penyayang. Selain itu, al-Mahabbah juga berarti kecenderungan kepada sesuatu yang sedang berjalan. Tujuannya adalah untuk memperoleh kebutuhan yang bersifat materiil ataupun spiritual, seperti kecintaan orang tua terhadap anaknya.
Selanjutnya, kata mahabbah digunakan untuk menunjukkan pada suatu paham atau aliran tasawuf, yaitu kecintaan yang mendalam secara rohaniah kepada Allah SWT. Pengertian mahabbah dari segi tasawuf ini lebih lanjut dikemukakan al-Qusyairi. Menurut beliau, al-mahabbah adalah hal (keadaan) jiwa yang mulia yang bentuknya disaksikan oleh Allah SWT. Menurut Rabi’ah al-Adawiyah, dorongan mahabbah kepada Allah SWT berasal dari diri seseorang sendiri dan juga karena hak Allah untuk dipuja dan dicintai. Mahabbah di sini bertujuan untuk melihat keindahan Allah SWT.
D.    Makrifat kepada Allah
Dalam tasawuf, makrifat berarti mengetahui Allah dari dekat. Dalam istilah Barat makrifat disebut gnosis, yaitu pengetahuan dengan hati nurani. Dengan makrifat, seseorang sufi lewat hati sanubarinya dapat melihat Allah SWT. Makrifat merupakan cermin seorang sufi. Jika seorang sufi melihat cermin, yang dilihatnya hanyalah Allah SWT.
Tokoh utama paham makrifat adalah Zunnun al-Misri. Menurutnya untuk menjelaskan paham makrifat perlu diketahui pengetahuan tentang Tuhan. Ada tiga macam pengetahuan untuk mengetahui Tuhan, yaitu:
1)        Dengan perantara syahadat;
2)        Dengan logika (akal pikiran sehat);
3)        Dengan perantara hati sanubari.
Oleh karena itu, makrifat merupakan cahaya yang memancar ke dalam hati seorang sufi dengan sinarnya yang menyilaukan.
 
E.    Hal dalam Tasawuf
 
Hal merupakan keadaan mental, seperti perasaan senang, perasaan sedih, dan perasaan takut. Hal yang biasa disebut dengan hal adalah takut (al-khauf), rendah hati (at-tawadu’), patuh (al-taqwa), ikhlas (al-ikhlas), rasa berteman (al-uns), gembira hati (al-wajd), dan berterima kasih (al-syukr). Hal berlainan dengan maqam. Hal diperoleh bukan atas usaha manusia, tetapi sebagai anugrah dan rahmat Allah SWT. Seain itu hal bersifat sementara, datang dan pergi bagi seorang sufi dalam perjalanan mendekati Allah.
Selain melaksanakan berbagai kegiatan dan usaha seperti yang disebutkan di atas, seorang sufi juga harus melakukan serangkaian kegiatan mental yang berat. Kegiatan itu seperti riyadah, mujahadah, khalwat, ‘uzlah, muraqabah, dan suluk. Riyadah berarti latihan mental dengan melaksanakan zikir, tafakur, dan melatih diri dengan berbagai sifat yang terdapat dalam maqam. Mujahadah berarti bersungguh-sungguh dalam melaksanakan perintah Allah. Khalwat berati menyepi atau bersemedi. ‘Uzlah berarti mengasingkan diri dari pengaruh keduniaan. Muraqabah berarti mendekatkan diri kepada Allah. Suluk berarti menjalankan cara hidup sebagai sufi dengan zikir. Sehingga dapat disimpulkan bahwa jalan yang harus dilalui seorang sufi cukup sulit dan harus ditempuh dengan perjuangan berat. Untuk pindah dari maqam satu ke maqam lain bagi seorang sufi memerlukan perjuangan berat dan waktu yang panjang.
 

3 komentar: